Holding Jadikan SMI Kelas Dunia

 

Pembentukan holding BUMN semen mendorong PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) menguasai kapasitas produksi terbesar ke-20 di dunia sejak 2015. Pada tahun itu, kapasitas produksi perseroan mencapai 31 juta ton, melampaui Siam Cement Group (SCG) yang berkapasitas 26 juta ton, dan tercatat sebagai pemain terbesar urutan 20 di dunia.

“Tahun 2017, kapasitas produksi Semen Indonesia meningkat lagi menjadi 35,5 juta ton dengan tambahan kapasitas dari pabrik Rembang dan Indarung VI,” kata Corporate Secretary Semen Indonesia Agung Wiharto dalam diskusi bertajuk ‘Mengapa Perlu Holding BUMN?’ di Jakarta, Selasa (5/12).

Menurut dia, peningkatan kapasitas yang signifikan itu didukung oleh pembentukan holding BUMN semen sejak 1994, meski melalui tiga fase yang penuh tantangan. Sebelum berkonsolidasi, PT Semen Padang, PT Semen Tonasa, dan PT Semen Gresik merupakan BUMN hebat yang tidak pernah rugi dan menjadi raja di daerah masing-masing. Semen Gresik merupakan holding BUMN pertama kali, yang pertama melakukan IPO, dan yang pertama menjadi multinational company. “Kalau ada bapak holding, mungkin Semen Indonesia yang pas. Ini adalah latar belakang kami,” ujarnya.

Agung menjelaskan, pada konsolidasi BUMN fase pertama (operating holding) periode 1995-2005, kinerja holding belum tumbuh secara optimal karena terjadi gerakan penolakan yang sangat masif dari internal maupun ekternal perusahaan yang menuntut spin off. Namun, itu semua berubah pada fase II holding BUMN semen karena tuntutan zaman yang berubah. “Pemain semen skala internasional masuk ke Indonesia. Tuntutan zaman berubah. Kami tidak bisa main sendiri-sendiri, kalau tidak habis kita,” paparnya.

Pada fase II holding BUMN semen, lanjut Agung, SMI menata kembali sinergi dan konsolidasi dari masing-masing anak usaha. Langkah yang dilakukan antara lain efisiensi dan sinergi ditingkatkan, restrukturisasi korporasi, optimalisasi kapasitas, brand equity dikembangkan, dan juga tidak ketinggalan efisiensi energi karena 65 persen cost structure berasal dari sini. “Kemudian manajemen juga kita ganti, yang semuanya satu visi. Jadi kami perlu tangan besi saat itu. Karena kalau kita biarkan, kita habis,” terang Agung.

Dia menilai dengan penataan pada fase II holding BUMN semen, hasilnya cepat diperoleh dan kinerja melambung dengan tinggi. “Pada periode 2005-2014, kinerja produksi melambung tinggi yang diikuti dengan peningkatan tajam laba bersih. Dulu pegawai yang ingin spin off merasakan, ‘lho kok bonusnya bagus ya’. Kami semakin sejahtera. Selain itu, benefit kami ke negara juga meningkat, setoran dividen rata-rata di atas 50 persen mengalir ke negara,” sebut dia.

Penataan strategi holding BUMN semen yang membuahkan kinerja positif juga tecermin dari pergerakan harga saham perseroan. Pada 1995-2005 harga saham perusahaan benar-benar tidur. Tapi setelah 2005, seiring kenaikan kinerja, harga saham ikut naik. “Pada 2014 kapitalisasi pasar Semen Indonesia sudah mencapai Rp 95 triliun, padahal asetnya sekitar Rp 20 triliun. PBV (price per book value) kita 5 kali lipat dihargai di pasar, enterprise value kami tertinggi di dunia,” katanya lagi.

Namun, lanjut Agung, penataan holding BUMN semen pada fase II dan III ternyata tidak berhenti sampai di situ. Persaingan industri semen makin sengit, ditandai dengan bertambahnya jumlah pemain dari hanya 7 perusahaan menjadi 15 perusahaan. “Sampai tahun ini, kapasitas semen nasional sudah mencapai 106 juta ton dan terjadi kelebihan kapasitas sekitar 35 persen. Ini bukan berarti setelah holding selesai, maka selesai pekerjaan, tidak seperti itu,” jelasnya.

Dia menambahkan, masuknya pemain baru mendorong persaingan harga dan margin yang lebih ketat. Dengan tekanan seperti itu, kinerja SMI terus menurun dalam tiga tahun terakhir. “Kalau kami pakai strategi kemarin, keniscayaannya akan turun. Laba bersih kami tidak sampai Rp 1,5 triliun hingga kuartal III 2017, padahal tahun lalu Rp 4,5 triliun. Margin juga terus menurun. Karena itu, kami harus berubah,” tandas Agung.

Besar dan Lincah

Sementara itu, Staf Khusus Menteri BUMN Wianda Pusponegoro mengatakan pembentukan holding BUMN ditujukan untuk menjadikan BUMN lebih besar, kuat, dan lincah. “Besar, kuat, dan lincah itu hanya kata sifat. Tujuan akhirnya adalah agar BUMN lebih mampu melayani masyarakat, karena BUMN pada dasarnya milik rakyat,” kata dia.

Lebih lanjut Wianda memaparkan alasan perlunya dibentuk holding BUMN, yaitu sebagai agen pembangunan nasional, menjamin pendanaan mandiri yang berkesinambungan sehingga tidak bergantung pada APBN, serta untuk percepatan dan penguatan sektoral. Selain itu, perusahaan negara diharapkan menjadi pemimpin di dalam negeri dengan memperkuat kapabilitas, menyelaraskan operasi, dan mencapai sinergi.

Menurut Wianda, pembentukan holding atau induk usaha bukan menjual BUMN kepada swasta, karena 100 persen sahamnya masih dimiliki pemerintah. “Kalau nanti jadi holding, peran pemerintah berkurang pada masing-masing holding? Itu tidak benar. Karena yang menjadi anggota holding itu 100 persen milik pemerintah. Pemerintah mengontrol sepenuhnya di sana,” paparnya.

Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Isa Rachmatawarta juga memastikan pembentukan holding BUMN tidak akan merugikan perusahaan negara. Sebaliknya, dengan pembentukan holding, diharapkan BUMN mampu meraih keuntungan dan bersaing dengan perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. “Kami justru ingin kekayaan investasi BUMN mendapat hasil yang optimal. Jangan sampai sudah mengeluarkan Rp 1 tapi pendapatan juga Rp 1. Kami ingin BUMN maju lagi dan jangan terpisah-pisah,” katanya.

Dia mengatakan, sebelum dibentuk suatu holding, pemerintah memastikan tidak ada aspek yang tertinggal dan harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Yang terpenting, tidak merugikan perusahaan, sehingga semua proses tata kelola berjalan dengan baik. Pembentukan induk usaha, sebut Isa, dimaksudkan agar perusahaan negara mampu meningkatkan daya saing nasional. “Kami ingin membangun daya saing. Itu tidak mungkin dengan satu BUMN, tapi harus sinergi dari beberapa BUMN,” ucap dalam diskusi yang diadakan Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) itu. (dry)