Penjualan SMI Group Tumbuh 8,1 Persen

Di tengah persaingan pasar yang semakin ketat Semen Indonesia Group masih mampu meningkatkan volume penjualan. Kurun Januari-Oktober 2017, penjualan SMI Group mencapai 25.885 juta ton dengan perincian penjualan Semen Padang sebesar 6.240 juta ton, Semen Gresik 12.611 juta ton, Semen Tonasa 5.073 juta ton, dan TLCC Vietnam 1,96 juta ton.

Total penjualan grup tersebut meningkat 8,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 23.956 juta ton. Hal itu diutarakan Kabiro Komunikasi Perusahaan SMI Sigit Wahono di sela acara media gathering bersama wartawan dan redaktur media Jawa Timur yang digelar di Jogjakarta, 8-9 Desember 2017.

Lebih lanjut Sigit menjelaskan, hingga saat ini di beberapa daerah, penjualan SMI Group mengalami pertumbuhan positif. Ia mencontohkan pertumbuhan penjualan semen di wilayah Jatim hingga Oktober 2017 tercatat sebesar 5.27 juta ton, dengan perincian penjualan semen bag sebesar 1.54 juta ton dan curah sebesar 3.730 juta ton, dengan penguasaan pasar sebesar 45,5 persen. Penjualan tersebut meningkat 10,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4.77 juta ton.

Pun demikian di Jawa Tengah, penjualan produk Semen Gresik mencapai 3.18 juta ton dengan penguasaan pasar sebesar 45,4 persen. Angka penjualan tersebut meningkat 14,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 2.77 juta ton. Melonjaknya penjualan produk SMI Group tak lepas dari gencarnya pembangunan infrastruktur yang digeber pemerintah maupun swasta.

“Industri semen ke depan diperkirakan semakin kompetitif karena kondisi permintaan semen dalam negeri yang mengalami over supplly dan banyaknya kometitor baru yang masuk. Ketatnya persaingan industri ke depan menjadi perhatian khusus perusahaan,” lanjutnya. Selain melakukan efisiensi di semua lini, SMI juga mensinergikan pemasaran anak usaha dengan membentuk Semen Indonesia Total Solution (SITOS). Terobosan baru ini menghadirkan layanan purna bisnis semen mulai hulu hingga hilir, yang didukung 32 perusahaan di lingkup SMI Group.

Khusus pengembangan pasar di luar negeri, saat ini perseroan telah melakukan ekspor semen ke  Bangladesh dan Maladewa dari TLCC Vietnam. Perusahaan juga tengah menjajaki ekspor semen ke Australia melalui Semen Padang. ”Ke depan kami akan melakukan penguatan pasar di Asia dan Asia tenggara dengan mengekspor 10 persen dari jumlah produk yang ada,” sebutnya dalam kegiatan bertajuk ‘Jagong Gayeng’ tersebut.

Sigit mengemukaan, korporasi juga berjuang masuk ke Australia, di mana saat ini contoh sampel produk semen yang akan masuk ke Australia sedang diuji di negara tersebut. “Persyaratannya sangat ketat untuk bisa masuk Australia,” tambahnya.

Dengan volume produksi lebih dari 32 juta ton per tahun, SMI Group

menghadapi kompetisi sangat keras dalam bisnis semen di Tanah Air, terutama dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Sigit mengemukakan, tingkat market share SMI di pasar domestik tetap di kisaran 41-43 persen, walau jumlah brand semen di pasaran nasional sekarang lebih dari 20 merek. “Persaingannya sangat keras,” sebut dia.

Bahkan, sejumlah pengamat ekonomi menyebut, bisnis semen di Indonesia telah masuk ke model persaingan sempurna. Di mana antarpabrikan semen bersaing ketat dan bebas di pasar. Pabrikan yang menawarkan harga lebih murah dengan kualitas produk jempolan dan layanan yang memuaskan, diperkirakan bakal mampu merebut hati konsumen. “Makanya yang kita rencanakan ekspansi regional di masa depan,” jelas Sigit. (fir)