SMI Salurkan Bantuan Tanggap Darurat Pacitan

Banjir dan tanah longsor memorak-porandakan Kabupaten Pacitan, akhir November lalu. Hampir seluruh wilayah kabupaten di ujung barat Jawa Timur ini lumpuh. Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan, Ratna Budiono, menyebut 12 kecamatan terdampak longsor dan 5 kecamatan terdampak banjir.

Selain korban jiwa yang mencapai 25 orang, kerugian materi ditaksir mencapai Rp 600 miliar. Hal ini meliputi kerusakan rumah, infrastruktur jalan, pertanian dan peternakan. Kerusakan rumah tercatat mencapai 440 rumah, 200 di antaranya rusah berat. Kondisi ini memaksa warga untuk mengungsi ke tenda-tenda penampungan dan sejumlah tempat yang tidak tergenang banjir.

Sejumlah bantuan pun mengalir untuk meringankan beban para korban. Tak terkecuali dari PT Semen Indonesia (Persero)Tbk. Wujud tanggap darurat atas bencana di Pacitan tersebut, perusahaan semen pelat merah ini mengirimkan bantuan berupa sembako, pakaian, tas sekolah hingga peralatan tukang untuk proses recovery.

“Jenis bantuan ini sebelumnya telah kita koordinasikan dengan BPBD setempat. Bantuan apa yang sekiranya masih diperlukan untuk meringankan beban para korban dan proses recovery. Obat-obatan sudah banyak, jadi kita fokuskan pada sembako, pakaian dan peralatan tukang untuk proses pembersihan dan recovery,” beber Kepala Biro PKBL Semen Indonesia, Frebriwan, Senin (11/12).

Bantuan senilai Rp 100 juta tersebut diserahkan secara langsung kepada BPBD setempat selaku posko induk bencana yang diwakili oleh Sekretaris BPBD Pacitan, Ratna Budiono, Kamis (7/12). “Jadi agar tepat sasaran kita serahkan bantuan kepada BPBD setempat. Karena mereka yang tahu kondisi di lapangan, jenis bantuan pun kita koordinasikan dengan BPBD selain juga kita lakukan survey lapangan,” sambungnya.

Sekretaris BPBD Pacitan, Ratna Budiono, mengapresiasi bantuan yang diberikan SMI. Menurutnya, dengan koordinasi diharapkan bantuan yang mengalir dapat tepat sasaran dan lebih bermanfaat bagi para korban. “Bantuan ini sangat bermanfaat bagi korban. Saat ini sedang mulai pengerjaan pembersihan. Setelah itu selama tiga bulan ke depan kita akan lakukan rehabilitasi konstruksi,” jelasnya.

Di sela penyerahan bantuan tersebut, Febriwan menyempatkan untuk berdialog dengan sejumlah warga korban banjir. Hal tersebut untuk mengetahui kondisi korban dan bantuan apa yang masih dibutuhkan. “Dari pantauan di lapangan dan dialog dengan warga, ternyata masih banyak warga yang mengungsi. Dapur umum juga masih ada di beberapa titik. Dengan bantuan ini mudah-mudahan proses recovery dapat segera berjalan, pembersihan bekas bencana jadi prioritas utama,” tambahnya.

Inisiatif tanggap darurat untuk Pacitan ini, menurut Febriwan, lantaran melihat kondisi korban yang cukup banyak dan parahnya kerusakan yang ditimbulkan. Terlebih SMI merupakan salah satu BUMN terdekat dengan wilayah tersebut.

Meski saat ini kondisi telah berangsur membaik, namun SMI masih terus melakukan koordinasi dengan BPBD Pacitan untuk mengetahui perkembangan situasi dan kondisi paska bencana. “Kita masih terus memantau untuk tindak lanjut. Lihat laporan terakhir setelah recovery kondisinya seperti apa,” tandasnya.

Tanggap darurat telah menjadi komitmen perusahaan untuk penanganan bencana. Hal ini sesuai dengan peraturan menteri BUMN yang mengatur pos anggaran bantuan bencana dalam PKBL. Selain Pacitan, tahun lalu SMI  juga memberikan bantuan untuk korban gempa di Aceh. Saat ini proses recovery pun masih terus berlangsung. Perusahaan berkode emiten SMGR ini tengah merehabilitasi 9 rumah di Pidie Jaya sebagai proses recovery paska gempa. (bwo)